JAMBI — Platform jejaring profesional LinkedIn mengambil langkah lebih tegas untuk membersihkan platformnya dari konten buatan AI yang tidak autentik. Langkah terbaru yang diumumkan pekan lalu adalah uji coba fitur pelaporan baru dan penghapusan fitur penulisan berbasis AI milik mereka sendiri.
Fitur yang sedang diuji coba ini memungkinkan pengguna untuk melaporkan unggahan yang diduga kuat merupakan hasil karya AI. Opsi pelaporan tersebut diberi label "seems like AI slop".
Menurut Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, ketika seorang pengguna melaporkan unggahan menggunakan fitur ini, pemilik unggahan akan menerima notifikasi pribadi melalui dasbor analitiknya. Notifikasi itu akan memberi tahu bahwa "orang lain merasa unggahan Anda mungkin terkesan tidak autentik atau menggunakan AI secara berlebihan."
Unggahan yang dilaporkan dengan fitur ini juga akan mengalami penurunan jangkauan algoritmik. Seorang juru bicara LinkedIn menyatakan mekanismenya serupa dengan ketika pengguna menandai sebuah konten sebagai "not interested" atau tidak tertarik.
Yang menarik, LinkedIn juga mengakui kontribusinya sendiri dalam memperburuk situasi konten AI di platformnya. Perusahaan secara resmi menghapus fitur "rewrite with AI" yang dulu terintegrasi di setiap kotak unggahan. Fitur ini sebelumnya memungkinkan pengguna untuk "memperkaya" atau menulis ulang unggahan dan pesan mereka dengan bantuan model bahasa besar (LLM).
Sebagai gantinya, LinkedIn meluncurkan versi fitur yang lebih sederhana. Srinivasan menjelaskan fitur baru ini hanya berfungsi untuk memeriksa tata bahasa tanpa mengubah gaya bicara atau "voice" asli pengguna.
Langkah keras ini tidak terlepas dari fakta bahwa LinkedIn kini dikenal sebagai "ground zero" atau episentrum konten AI. Sebuah studi terbaru dari perusahaan deteksi AI, Pangram, menemukan bahwa LinkedIn adalah platform media sosial "yang paling jenuh dengan AI." Studi tersebut mencatat lebih dari 40 persen unggahan berformat panjang di LinkedIn terdeteksi sebagai konten yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI.
Masalah ini diperparah oleh serbuan bot AI. Srinivasan mengungkapkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir saja, LinkedIn telah mendeteksi "ratusan ribu" komentar otomatis dan memblokir miliaran upaya unggahan otomatis lainnya.
Meskipun langkah ini menunjukkan keseriusan LinkedIn, efektivitasnya dalam mengubah tren masih dipertanyakan. Mengingat volume konten buatan AI yang sudah sangat besar di platform, fitur pelaporan dan penurunan jangkauan mungkin belum cukup untuk membersihkan linimasa secara signifikan.
Bagi pengguna profesional Indonesia yang aktif di LinkedIn, langkah ini setidaknya memberikan harapan akan lingkungan diskusi yang lebih autentik. Namun, pengguna juga perlu tetap kritis dan tidak segan menggunakan fitur pelaporan baru begitu tersedia secara luas.