JAMBI — Jumat malam tiba dan waktu scrolling tanpa akhir di Netflix sebaiknya segera diakhiri. Tiga judul ini punya kualitas yang berbeda-beda, tapi sama-sama layak ditonton. Dari sisi kualitas akting, ketiganya adalah kelas berat. Yang menarik, "A Private Life" (2025) bahkan membuat Jodie Foster menjadi orang Amerika pertama yang dinominasikan untuk Lumière Award kategori Aktris Terbaik.
Jodie Foster tidak hanya membintangi thriller misteri ini, tapi juga tampil dalam bahasa Prancis yang fasih. Ia berperan sebagai Dr. Lilian Steiner, seorang psikiater asal Amerika yang tinggal di Paris. Konflik dimulai ketika seorang pasiennya bunuh diri, namun kecurigaan muncul setelah Simon (Mathieu Amalric) dan Valérie (Luàna Bajrami), suami dan anak dari pasien tersebut, datang berkunjung.
Kecurigaan itu semakin kuat setelah Lilian menyadari beberapa berkas pasiennya hilang. Ia pun memulai penyelidikan sendiri dan meyakini ini bukan sekadar kasus bunuh diri, melainkan pembunuhan. Rekan saya Malcolm McMillan menyebut film ini "layak ditonton untuk penampilan Jodie Foster saja," dan itu bukan pujian kosong.
Berbeda dengan "A Private Life" yang penuh teka-teki, "Tár" (2022) adalah drama psikologis yang menuntut kesabaran. Durasi 158 menit mungkin membuat sebagian orang berpikir ulang, tapi sutradara Todd Field membangun ketegangan secara perlahan lewat karakter Lydia Tár (Cate Blanchett), seorang konduktor orkestra Berlin yang karirnya di puncak.
Blanchett memikul hampir seluruh beban film ini di pundaknya, dan ia berhasil. Film ini berbicara tentang arogansi, dinamika kekuasaan, dan kehancuran reputasi yang spektakuler. Ketika serangkaian tuduhan mulai menyerang karakter Lydia, kehidupan yang ia bangun dengan hati-hati mulai runtuh, dan penonton diajak menyaksikan kejatuhannya yang gelap. Ini bukan tontonan ringan untuk mengusir penat, melainkan pengalaman sinematik yang intens dan menguras emosi.
Kalau akhir pekan ini ingin suasana yang lebih ringan dan seru, Netflix baru saja menambahkan trilogi "Scream" original. Meskipun sekuelnya juga menarik, film pertama tetap yang terbaik. Keistimewaan "Scream" terletak pada pendekatan meta-nya yang cerdas — film ini mengakui klise genre horor dan justru memutarbalikkannya dengan cara yang cerdik.
Berlatar di kota kecil Woodsboro, Sidney Prescott (Neve Campbell) masih berduka atas kematian ibunya setahun lalu. Saat hari peringatan itu mendekat, ia dan teman-temannya mulai diteror oleh pembunuh bertopeng Ghostface. Dengan dukungan Courtney Cox, David Arquette, dan Matthew Lillard, film ini adalah perpaduan antara horor yang menegangkan dan misteri "siapa pelakunya" yang bikin penasaran.
Ketiga film ini menawarkan kualitas akting yang di atas rata-rata, tapi dengan ritme yang sangat berbeda. "Scream" adalah yang paling mudah dicerna, sementara "Tár" dan "A Private Life" menuntut perhatian penuh. Pilih sesuai mood, dan selamat menonton.