JAMBI — Framework Laptop 13 Pro bukan sekadar penyegaran dari Framework Laptop 13 yang rilis 2021. Ini desain ulang total dari bawah ke atas. Saya memakai unit review edisi DIY selama beberapa pekan untuk kerja harian, instalasi Windows 11, dan uji baterai laboratorium. Hasilnya: laptop ini sangat menjanjikan sebagai produk, tapi strategi harga komponennya justru bikin ragu.
Build Quality Naik Kelas: Kokoh, Matte, dan Modular
Dari luar, bentuknya memang mirip pendahulunya, tapi sentuhan pertama langsung terasa beda. Finishing matte black yang baru terasa lebih premium dibanding warna silver generasi lawas. Engsel aluminiumnya juga lebih halus saat dibuka satu tangan—peningkatan kecil yang langsung terasa setiap hari.
Bobotnya 1,4 kg dengan empat expansion card terpasang, dan ketebalan 1,57 cm. Masih lebih berat dari Dell XPS 13, tapi tetap nyaman masuk tas harian. Yang menarik, ada bagian plastik bezel yang bisa diganti warna—saya dapat versi oranye transparan yang mengingatkan pada N64—dan meski terasa agak flimsy, magnetnya cukup kuat untuk tetap rapi.
Framework juga menyematkan nodul kecil di bawah keyboard deck yang memudahkan pembongkaran. Cukup buka sekrup Torx T5 (sudah termasuk di dus), dorong nodul itu, dan laptop terbuka tanpa perlu alat pry. Perbaikan kecil ini sangat berarti untuk pengguna yang sering utak-atik.
Layar Lebih Terang dan Baterai 16 Jam 48 Menit
Panel 13,5 inci anyar ini punya resolusi 2880x1920 dengan kecerahan puncak 700 nit dan refresh rate adaptif 30-120Hz. Untuk kelas laptop Windows, ini salah satu panel terbaik yang pernah saya pakai—cukup terang untuk dipakai di dekat jendela, dan scrolling terasa mulus.
Baterainya juga lompatan besar. Framework mengklaim 20 jam, dan di uji lab kami—yang menggabungkan browsing, streaming video, dan tes OpenGL ringan—laptop ini bertahan 16 jam 48 menit. Itu rekor untuk laptop Windows sekelasnya, dan mendekati MacBook Pro M5 Pro yang tembus 21 jam. Untuk pemakaian kerja normal, ini laptop satu hari penuh tanpa charger.
Performa: Cukup untuk Kerja, Bukan untuk Gaming Berat
Unit yang saya uji memakai Intel Core Ultra X7 385H dengan RAM 32GB LPCAMM2. Skor Geekbench 6-nya 2.836 single-core dan 14.715 multi-core. Angka ini sejajar dengan Dell XPS 14 untuk single-core, tapi tertinggal cukup jauh di multi-core (XPS 14: 16.927).
Penting dicatat: CPU ini hanya didinginkan satu kipas. Tidak ada thermal throttling yang mengganggu saat kerja harian, tapi ini bukan laptop untuk redline terus-menerus. Untuk editing video ringan atau gaming 1080p dengan setting menurun, masih sanggup. Tapi di harga yang diminta, ekspektasi performanya jadi lebih tinggi.
Masalah Terbesar: Harga RAM yang Menggila
Ini bagian yang membuat saya kesulitan merekomendasikan laptop ini. Saat pertama kali diperkenalkan, Framework berjanji tidak akan mempermainkan harga RAM. Kenyataannya, krisis RAM global membuat harga modul LPCAMM2 melonjak drastis: modul 32GB kini USD 800 (sekitar Rp 12,8 juta) dan 64GB USD 1.600 (sekitar Rp 25,6 juta).
Konfigurasi yang saya uji—Core Ultra X7, 32GB RAM, 1TB SSD—sekarang dihargai USD 2.915 (sekitar Rp 46,6 juta). Versi pre-built-nya USD 2.899, naik USD 800 dari harga peluncuran. Sebagai perbandingan, Dell XPS 14 dengan spesifikasi setara ada di angka USD 2.579. Pertanyaannya: apakah upgradeability dan kemudahan reparasi sepadan dengan selisih Rp 5-6 juta?
Kalau Anda cukup dengan 16GB RAM, kabar baiknya: varian itu hanya naik USD 100 menjadi USD 1.599. Tapi untuk power user yang butuh 32GB ke atas, harga ini sulit dibenarkan.
Kekurangan Lain: Webcam Biasa Saja dan Ketersediaan Terbatas
Webcam 1080p-nya mengecewakan—grainy di kondisi cahaya rendah, dan tidak ada kamera infrared untuk Windows Hello. Untuk laptop di kelas harga ini, ketiadaan IR camera terasa aneh.
Masalah kedua adalah ketersediaan. Semua varian masih pre-order dan baru akan dikirim November 2026. Kalau Anda butuh laptop sekarang, ini bukan pilihan realistis. Framework juga belum mengumumkan ketersediaan resmi untuk pasar Indonesia, jadi pembeli lokal harus lewat jasa import—yang otomatis menambah biaya dan risiko garansi.
Verdict: Produk Hebat, Timing dan Harga yang Salah
Sebagai produk, Framework Laptop 13 Pro adalah laptop modular terbaik yang pernah ada. Build quality premium, baterai luar biasa, layar cerah, dan ekosistem reparasi yang benar-benar berfungsi. Saya percaya pada visi Framework—laptop yang bisa diupgrade dan diperbaiki selama bertahun-tahun adalah masa depan yang lebih bertanggung jawab untuk industri ini.
Tapi di harga hampir Rp 47 juta untuk konfigurasi menengah, dengan ketersediaan yang baru November dan webcam yang biasa saja, rekomendasinya jadi rumit. Laptop ini jelas untuk enthusiast yang percaya pada misi Framework dan siap membayar lebih untuk prinsip tersebut. Untuk kebanyakan orang yang butuh laptop kerja sekarang, Dell XPS 14 atau MacBook Pro M5 masih jadi pilihan yang lebih masuk akal.
Framework Laptop 13 Pro direkomendasikan untuk: developer, pengguna Linux, dan mereka yang ingin laptop 5-7 tahun dengan upgrade bertahap. Tidak direkomendasikan untuk: pembeli yang butuh laptop segera, atau yang mencari performa terbaik di harga tersebut.